Geliat Kampung Literasi Pinggir Sungai Kahayan - Kota Palangkaraya

Artikel : Kampung Literasi
20 Apr 2018 -

Terik mentari terasa menyengat. Padahal jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi, Pelabuhan Rambang, Kota Palangkaraya ramai seperti biasa. Di jalan aspal, hilir mudik kendaraan nyaris tiada henti. Di sungai, tak kalah sibuk. Perahu motor bergerak cepat membelah Sungai Kahayan. Tiupan angin pagi membawa aroma amis ikan ke daratan.

Di tengah suasana seperti inilah pencanangan Gerakan Indonesia membaca (GIM)  diselenggarakan.  Pencanangan GIM diselenggarakan tidak di tengah kota atau di dalam gedung. Pencanangan GIM diselenggerakan di tengah-tengah kampung tepatnya di Kampung Literasi.

Panitia hanya mendirikan tiga tenda besar yang diperuntukkan panggung, tempat duduk undangan, dan pameran. Meski demikian, atribut pencanangan seperti spanduk dan umbul-umbul sudah terlihat sejak jalan masuk menuju pelabuhan.

Tampak pegiat Literasi, Komunitas Sastra, Komunitas Penyelamat Lingkungan, aparat desa setempat, kepolisian, dan masyarakat sekitar, nampak antusias mengikuti rangkaian acara pencanangan. Penampilan anak-anak PAUD yang menggemaskan, tarian dan aksi teatrikal yang dibawakan siswa-siswa SMA Kota Pangka Raya dan musikalisasi puisi dari Sanggar Terapung, cukup menghibur semua yang hadir pada acara tersebut.

Hadir mewakili Walikota Palangka Raya, Staf Ahli Walikota Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, Supriyanto. Dalam sambutannya ia menegaskan dukungan Pemkot Palangka raya terhadap GIM. GIM merupakan upaya bersama mencerdaskan anak bangsa.

Menurutnya, upaya menumbuhkan budaya membaca di kalangan masyarakat saat ini merupakan sebuah tantangan. Di kota Palangka Raya, misalnya, upaya ini seringkali dipengaruhi factor ekonomi. Tingkat ekonomi sangat mempengaruhi. Bagi mereka yang berada di level bawah, seringkali membaca bukan prioritas. Memenuhi kebutuhan ekonomilah yang menjadi prioritas uatama. Faktor lainnya kondisi geografis. Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di sepanjang tepian sungai Kahayan yang hanya dapat dijangkau menggunakan perahu motor, akses informasi dan sumber bacaan masih menjadi kendala. Faktor lainnya juga tak kalah berpengaruh adalah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Penggunaan gadget yang dengan marak cendrung memperlemah kebiasaan membaca.

Pencananganan GIM, kata dia, tidak akan berpengaruh bila sekedar seremonial. Untuk itu ia mengajak kepada selurugh pegiat literasi dan komunitas yang ada di Kota Palangka Raya untuk bersama-sama memanfaatkan memontum pencananganan GIM dengan merancang aksi lanjutan agar tujuan pelaksanaan GIM di Kota Palangka Raya dapat terwujud.

Aksi Literasi

Tidak jauh dari panggung utama. Puluhan anak TK/PAUD asyik mengikuti lomba mewarnai. Mereka duduk di lantai menghadap meja lipat milik masing-masing, lengkap dengan peralatan ‘tempur’ mereka. Selain lomba mewarnai, panitia pencananganan GIM Kota Palangka Raya juga menggelar lomba  lainnya. Diantaranya lomba membuat sampul cerita rakyat, cipta dan baca puisi peserta didik program kesetaraan dan LKP, Lomba menulis sinopsis buku, saraseha pegiat literasi, dan pameran buku.

Menurut Kharina Ulfa, pegiat literasi yang juga panitia, berbagai lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan pencanangan GIM tersebut mendapat respon baik dari masyarakat, hal, itu dapat dilihat dengan jumlah peserta yang mendaftar selalu di atas lima puluh orang untuk setiap jenis perlombaan.

Selepas kumandang azan Dzuhur Cape Kreasi Pelabuhan Rambang terlihat ramai. Sekitar 60-an orang berkumpul. Mereka adala para pegiat, pengelola Satuan Pendidikan Nonformal, Pengelola Taman Bacaan Masyarakat, dan lembaga mitra DINAS Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palangka Raya.

Siang itu mereka berkumpul untuk mengikuti kegiatan sarasehan. Kegiatan ini merupakan menu wajib yang harus dilaksanakan dalam setiap pencanangan GIM di Kampung Literasi.

Dalam sarasehan ini para peserta saling berbagi informasi dan pengalaman mereka selama menggerakkan budaya literasi di masyarakat. Namun, misi utama yang harus dicapai melalui sarasehan adalah tersusunnya Rencana Aksi Daerah untuk mengembangkan budaya baca di Palangka Raya.

Berbekal pengalaman di lapangan para peserta yang selama ini bergiat di lapangan mereka merumuskan berbagai rencana dan strategi yang akan dilaukan bersama demi menumbuhkan budaya membaca di masyarakat.

Rencana aksi ini menjadi sangat penting demi keberlanjutan gerakan. Tanpa renca aksi ini maka gerakan yang dilakukan oleh setiap pegiat tidak akan membawa dampak luas bagi masyarakat. Tanpa saling bersinergi maka kekuatan gerakan itu akan lemah. Padahal, perjuangan menumbukan budaya membaca di masyarakat masih harus menempuh jalan yang panjang sehingga membutuhkan nafas yang juga panjang.

Kampung Literasi

Memasuki kawasan Rindang Banua atau lebih dikenal dengan sebutan Puntun suasana pemukiman pada penduduk begitu terasa. Rumah-rumah panggung berdiri di sepanjang suangai Kahayan. Pemukiman padat penduduk ini memiliki akses jalan jembatan kayu. Transportasi masyarakat kendaraan roda dua dan tiga saja.

Pemukiman padat di Rindang Banua ini sangat diminati masyarakat karena letak geografisnya yang dekat dengan seluruh fasilitas umum seperti, pasar, Puskesmas, sekolah dan tempat ibadah. Namun, menurut Khairina Ulfah, Ketua PKBM Lutfillah yang juga pelaksana Kampung Literasi 2016, kedekatan berbagai fasilitas tersebut tidak lantas menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar. Soal pendidikan misalnya, banyak warga yang tinggal di pemukiman tersebut masih buta aksara, pun kesejahteraan ekonomi, mereka umumnya miskin. Profesi mereka umumnya adalah buruh di pasar.

Berangkat dari kondisi inilah, pada Juli 2004 tumbuh tekad dari sekelompok anak muda untuk mendirikan wadah belajar yang mampu memberi kesempatan belajar bagi warga masyarakat sekitar Rindang Banua Kelurahan Pahandut Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya, Profinsi Kalimantan Tengah.

Kelompok belajar ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PKBM Lutfillah.  Kini sebagai pelaksana Kampung Literasi, bekerjasama dengan kelurahan setempat PKBM Lutfillah menginisiasi lahirnya Koran kelurahan Pahandut dan Website Kelurahan.  Media ini menjadi alat sosialisasi sekaligus pembelajaran bagi masyarakat sekitar.  Peserta didik yang telah menguasai keaksaraan atau peserta didik kesetaraan diberi kesempatan menulis di koran tersebut. Melalui cara ini mereka dituntut untuk terus membaca dan menulis.

Selain kegiatan menulis, kegiatan Kampung Literasi Kelurahan Pahandut dikaitkan juga dengan upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui lomba resep nenek moyang masakan khas Dayak. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan resep-resep nenek moyang sehinggga tidak tergeser oleh resep masakan modern. Warga diajak untuk mencintai makanan khas Dayak. Pesertanya adalah perwakilan dari masing-masing RT di Lingkungan Kelurahan Pahandut. Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan disambut antusiasme warga. Kegiatan ini pula merupakan salah satu rangkaian kegiatan Gerakan Indonesia Membaca beberapa waktu lalu. Wilayah Puntun dijadikan model Kampung Literasi Pesisir dibawah asuhan PKBM Lutfillah.  Reward point diberikan kepada warga yang aktif berkunjung untuk membaca yang dapat ditukarkan dengan berbagai jenis barang.

Secara berkala Kampung Literasi Bantaran Sungai Kahayan menyediakan secara gratis koran Kelurahan yang terbit setiap 1 bulan sekali dan Koran Berkah setiap hari Jumat. Koran sederhana namun memberikan dampat positif terhadap masyarakat. Selain itu PKBM Luthfillah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap program budaya baca, juga menyelenggarakan gerakan wajib baca untuk RT. 03 ada 10 anak yang aktif mengikuti kegiatan.

Kegiatan literasi keuangan dilakukan menggandeng Bank BTPN, Kampung Literasi sebagai Agen BTPN memberikan kemudahan masyarakat dalam menabung dan mengeluarkan masyarakat dari koloni rentenir.

Kegiatan Outbond bersama anak kesetaraan di Ater Park dalam rangka peningkatan kemampuan kerjasama dan kemandirian. Gerakan pungut sampah dalam upaya menyardarkan masyarakat terhadap pentingnya kebersihan sebagai gerakan literasi mengaji dari yang iqra sampai alquran dan pengetahuan agama lainnya sebagai literasi agama.

Kampung Literasi PKBM Lutfillah didesain memang untuk memberikan layanan kepada masyarakat sekitar untuk menumbuhkan semangat belajar dan kegemaran membaca.  Menurut Ulfa walaupun terasa sulit itu harus dilakukan, motivasi dalam pemberian hadiah hasil mengumpulkankan point membaca kadangkala harus dilakukan.  PKBM Lutfillah terus berupaya mendekatkan kampung literasi dengan masyarakat sekitarnya. Kecintaan terhadap literasi telah didengungkan, semoga menjadi pembangkit semangat masyarakat untuk mau terus belajar.  (DitBindiktara)




Pos-pos terakhir

  • Penetapan Peserta Residensi 2018

    Selengkapnya
  • Warga Binaan dan Mantan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Salemba Kelas II A Di Jakarta Ikut UNBK Pendidikan Kesetaraan Paket C

    Selengkapnya
  • Selamat Menempuh Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018, Prestasi Penting Jujur yang Utama

    Selengkapnya
  • Geliat Kampung Literasi Pinggir Sungai Kahayan - Kota Palangkaraya

    Selengkapnya
  • Kemendikbud Memberikan Kesempatan Bagi Para Lulusan Pendidikan Kesetaraan Program Paket C/Ulya Tahun 2018 Mengikuti Seleksi Masuk Perguruan Tinggi

    Selengkapnya